Artikel
Februari 5, 2021 - Posted by

Peristiwa bencana di Indonesia kian meningkat dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir. Data bencana milik BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) menunjukkan, sejak tahun 2010 – 2021 peristiwa bencana alam di Indonesia meningkat. Selain itu, data tersebut juga menyatakan terdapat 1.760 bencana alam dan 42 bencana akibat ulah manusia yang terjadi pada pertengahan tahun 2020 hingga awal tahun 2021 dengan total korban jiwa 411 orang.

 

Berikut peristiwa bencana besar yang terjadi di awal tahun 2021, banjir dan longsor Manado menelan korban jiwa 8 orang, tanah longsor Kalimantan Selatan menelan 24 orang serta longsor Sumedang menelan 34 orang, Gempa Mamuju 105 jiwa, dan korban jiwa jatuhnya Sriwijaya SJ-182 58 jiwa. Sayangnya, tidak seluruh korban jiwa di atas dapat teridentifikasi sebab adanya korban jiwa yang sulit untuk dikenali ataupun tidak memiliki identitas saat ditemukan. Oleh karena itu, proses identifikasi korban bencana menjadi hal utama untuk dilakukan setelah terjadinya bencana ataupun peristiwa yang menelan korban sebelum dilakukannya pemeriksaan mayat tingkat lanjut (autopsy).

 

Identifikasi korban bencana merupakan bentuk upaya untuk mengenali atau menentukan identitas seseorang yang mengalami kesulitan ataupun meninggal akibat bencana dengan menggunakan beberapa faktor.  Dua metode utama identifikasi yang umumnya digunakan, seperti identifikasi komparatif dan rekonstruktif.

 

Kendati demikian, pengidentifikasian korban tetap menggunakan prosedur Disaster Victim Identification (DVI) yang ditetapkan oleh Interpol. Prosedur ini, terdiri atas lima tahapan, yakni the scene, post mortem examination, ante mortem information retrieval, ronciliation, dan debriefing.

 

Tidak hanya itu, untuk melakukan kelima tahapan di atas dibutuhkan 1) Primary Identifier (PI), yaitu sidik jari, odontologi, dan DNA, 2) Secondary Identifier (SI) yang terdiri dari rekam medis, aksesoris, dan fotografi. Selanjutnya, Interpol menetapkan bahwa dalam identifikasi korban dianggap sah dan benar saat berhasil diuji oleh satu Primary Identifier atau dua Secondary Identifier.

 

Proses Identifikasi Korban Bencana

Proses identifikasi korban bencana memerlukan perangkat pendukung agar hasil identifikasi dapat sesuai dengan identitas yang berlaku. Perangkat yang digunakan pun memiliki fungsi yang berbeda, seperti perangkat forensik milik Qiagen. Perangkat ini terdiri atas enam perangkat dengan lima tahapan. Berikut adalah pemaparan mengenai langkah proses identifikasi korban bencana.

 

1. Pretreatment

Pada tahap ini, perangkat yang digunakan adalah Investigator Lyse & Spin Basket Kit. Saat proses identifikasi korban bencana, perangkat tersebut berperan untuk lysis dan filtrasi sampel forensik dengan menghilangkan substrat sampel padat serta dapat digunakan untuk berbagai jenis sampel. Tak hanya itu, perangkat tersebut berfungsi sebagai wadah atau media menyimpan sampel.

 

2. Sample Preparation

EZ1 Advanced XL

Proses identifikasi korban selanjutnya, yaitu dengan EZ1 Advanced XL.Tahap ini berfungsi melakukan ekstraksi atau pemurnian asam nukleat secara otomatis yang berada dalam Investigator Lyse & Spin Basket Kit. Selain itu, perangkat tersebut dapat mengekstrasi hingga 14 sampel diagnostik manusia, forensik atau molekuler dalam sekali waktu.

 

3.  Assay Setup

Tahap ini dilakukan untuk mendapatkan hasil ekstrasi materi genetik sehingga didapatkan DNA korban. Perangkat yang digunakan pada tahap ini, yakni QIAgility atau QIAsymphony namun penggunaan QIAsymphony hanya untuk kapasitar besar.

 

4. Quantification

Setelah mendapatkan DNA korban, tahap selanjutnya ialah menghitung dan mendeteksi DNA manusia  menggunakan Investigator Quantiplex Pro Kit agar dapat dilanjutkan dengan analisis STR korban. Alat ini bekerja dalam waktu satu jam dengan metode real time PCR.

 

 5. STR  (Short Tandem Repeats) Analysis

Tahap terakhir dalam identifikasi korban bencana, yaitu STR (Short Tandem Repeats) analysis dengan perangkat Investigator 24plex QA Kit. Perangkat ini, akan mengaplifikasi seluruh lokus yang telah ditetapkan oleh CODIS (COmbine DNA Index System), ESS (European Standard Set) markers, SE33, DYS391, D2S1338, D19S433 dan Amelogenin. Bahkan, alat ini memiliki sensitifitas tinggi sehingga memberikan hasil yang cepat dan akurat kemudian setelah selesai maka didapatkannya identitas korban.

Dengan demikian, proses identifikasi korban bencana memerlukan perangkat yang mendukung agar proses identifikasi korban bencana dapat dilakukan secara tepat dan cepat.

 

Alat yang tepat mampu menangani dengan tepat,  tertarik untuk memiliki perangkat forensik yang tepat? sila menghubungi GeneCraftLabs melalui email kami di sales@genecraftlabs.com. Team kami akan membantu Anda  menemukan perangkat forensik yang tepat untuk Anda. Sebagai distributor laboratorium di Indonesia, Kami dapat memenuhi tiap kebutuhan laboratorium Anda secara tepat.

 

Reference:

Qiagen DVI Products

Our Location

HEAD QUARTERS - JAKARTA

  • Kebon Jeruk Business Park Blok F2-9, Jl. Raya Meruya Ilir No.88, Meruya Utara, Jakarta Barat - 11620

CIKARANG OFFICE

  • CBD Jababeka Blok A-8 Jl. Niaga Raya Kav. AA3, Jababeka II Pasar Sari

SURABAYA OFFICE

  • Gedung Bumi Mandiri Tower I, Lantai 4/410 Jl. Basuki Rahmat 129-137, Surabaya 60271

MEDAN OFFICE

  • Regus Forum Nine, 9th Floor Jl. Imam Bonjol No 9, Medan 20112

Get In Touch with Us

  • This field is for validation purposes and should be left unchanged.