Artikel
Mei 21, 2021 - Posted by

Perbincangan mengenai virus seolah tidak terlepas terkait vaksin. Sebab, vaksinasi dianggap sebagai salah satu cara agar tidak terpapar virus maupun suatu penyakit. Bahkan, peneliti beranggapan vaksinasi merupakan cara teraman dan terefektif yang dapat dilakukan. Meskipun demikian, pelaksanaan vaksinasi perlu didukung dengan tempat penyimpanan vaksin yang baik.

Seluk beluk vaksin

 

Cara kerja Vaksin
Ilustrasi Cara Kerja Vaksin

Vaksin sering kali dianggap sebagai obat suatu penyakit, padahal vaksin sendiri terbuat dari suatu penyakit atau virus yang telah dilemahkan kemudian digunakan untuk vaksinasi. Selaras dengan itu, vaksinasi ialah kegiatan vaksin dengan tujuan makhluk hidup yang divaksin dapat kebal terhadap suatu penyakit atau virus.

Selain itu, vaksin melatih sistem kekebalan kekebalan tubuh untuk membuat antibodi, seperti saat terkena penyakit. Akan tetapi, vaksin tidak dapat menyebabkan penyakit ataupun risiko komplikasinya karena vaksin hanya mengandung virus atau bakteri yang telah dilemahkan.

Selanjutnya, vaksin mempersiapkan pertahanan alami tubuh yang dapat mengenali dan melawan virus atau bakteri. Alhasil, saat tubuh terkena patogen penyakit tersebut, ia siap menghancurkannya dengan cepat.

Cara pemberian vaksin umumnya melalui suntikan, oral, dan disemprotkan ke hidung. Hingga saat ini, telah terdapat lebih dari 20 penyakit yang tersedia vaksinnya, yakni influenza, campak, pertussis, tetanus, difteri, covid-19, dan lainnya.

Tiap bahan pembuatan vaksin telah diuji dan dipastikan keamanannya kemudian tiap bahan tersebut memiliki peranan penting masing-masing, yaitu.

  • Antigen, bentuk virus yang telah dilemahkan. Bahan inilah, yang melatih tubuh seseorang untuk mengenali dan melawan penyakit jika terpapar di yang akan datang.
  • Adjuvan, membantu meningkatkan respon imun tubuh.
  • Pengawet, untuk memastikan vaksin tetap efektif.
  • Stabilisator, melindungi vaksin selama penyimpanan dan transportasi.

Walaupun telah teruji dan dipastikan keamanannya, akan tetapi tidak menutup kemungkinan adanya efek samping. Umumnya, efek samping vaksinasi yang terjadi tidak bertahan lama, misalnya nyeri pada lokasi suntikan dan demam ringan.

Dalam hal ini, dapat dikatakan pula tingkat risiko infeksi seseorang yang telah divaksin akan berkurang kemudian jikapun terjangkit ia tidak dapat menularkannya pada orang lain. Dengan demikian, jika makin banyak populasi yang telah divaksin maka akan terbentuk kekebalan kelompok atau “herd immunity”.

Hal ini dikarenakan, saat seseorang divaksinasi ia tidak hanya melindungi dirinya sendiri namun juga melindungi orang-orang di sekitarnya. Oleh karena itu, vaksinasi perlu dilakukan terlebih dalam keadaan pandemi.

Vaksin Covid-19

Pandemi covid-19 telah terjadi kurang lebih dalam waktu dua tahun. Sepanjang itu, peneliti telah melakukan penelitian terhadap vaksin covid-19. Saat ini, terdapat lima vaksin covid-19 yang digunakan di seluruh dunia, di antaranya.

  1. BBIBP- Corv, Sinopharm, vaksin yang dikembangkan pada tahun 2020 oleh China National Pharmaceutical. Vaksin ini, dibuat dari inactivated virus yang disebut SARS-CoV-2 Vaccine (Vero Cell) yang mana partikel virus tersebut telah dimatikan untuk mengekspos sistem kekebalan terhadap virus tanpa adanya risiko respons penyakit yang serius. Efektivitas vaksin BBIBP, yakni 50% serta vaksin perlu disimpan dalam suhu 2 – 8 ºC.
  2. Sinovac, dikembangkan oleh Sinovac Biotech Ltd dengan menggunakan inactivated virus dan memiliki efektivitas 65.3%. Sama halnya dengan vaksin BBIBP, vaksin ini memerlukan tempat penyimpanan dengan suhu 2 – 8 ºC.
  3. AstraZeneca, vaksin ini hasil kerja sama Universitas Oxford dan AstraZeneca dan mulai dikembangkan sejak Februari tahun 2020. Dengan efektivitas 63,09%, vaksin tersebut dapat digunakan untuk mencegah tubuh terpapar virus korona. Virus yang digunakan berasal dari hasil rekayasa genetika (viral verctor) yang didapat dari adenovirus simpanse sehingga dapat memicu respon imun. Tempat penyimpanan vaksin AstraZenecca dengan temperatur 2 – 8 ºC.
  4. Pfizer, vaksin hasil kerja sama perusahaan bioteknologi Jerman BioNtech dengan perusahaan farmasi asal Amerika Pfizer. Vaksin Pfizer berjenis vaksin mRNA (messenger RNA) yang mana memicu sistem kekebalan tubuh dengan membentuk spike protein sehingga membantu tubuh membentuk antibodi yang dapat melawan virus korona. Vaksin Pfizer disimpan dalam suhu -80 ºC.
  5. Moderna, vaksin dikembangakn sejak Januari 2020 oleh Vaccine Research Center at the National Institute of Allergy and Infectious Disease (NIAID), Amerika. Jenis vaksin ini, sama dengan vaksin Pfizer, yang menggunakan komponen materi genetik sehingga membuat sistem kekebalan tubuh memproduksi spike protein. Suhu tempat penyimpanan vaksin ini -20 ºC.

Tempat penyimpanan vaksin

Rantai dingin sistem tempat penyimpanan vaksin
Ilustrasi Rantai Dingin

Vaksin perlu disimpan dalam tempat penyimpanan dengan menerapkan sistem rantai dingin atau cold chain. Hal ini dikarenakan, tiap vaksin memiliki ketentuan tersendiri akan suhu penyimpanannya sehingga kualitas vaksin tetap terjaga.

Rantai dingin atau cold chain merupakan sistem yang digunakan dengan mempertimbangkan tingkatan suhu dalam prosesnya. Proses yang dimaksud ialah saat produksi, penyimpanan, transportasi hingga  vaksinasi.

Tak hanya itu, prosedur penyimpanan vaksin terbagi atas tiga jenis, di antaranya.

  • Sensitif beku (freeze sensitive), vaksin jenis ini perlu disimpan pada suhu 2 – 8 ºC, jika disimpan pada suhu dingin di bawah 0 ºC dapat mudah rusak. Vaksin hepatitis, B, DPT, DPT-HB, TT, BBIBP, sinovac, dan astrazeneca ialah vaksin yang tergolong jenis ini.
  • Sensitif panas (heat sensitive), vaksin ini mudah rusak terhadap paparan panas secara berlebih karenanya, perlu disimpan dalam suhu -15 ºC – -25 ºC. Vaksin BCG, polio, campak, dan moderna, termasuk dalam vaksin berjenis sensitive panas (heat sensitive).
  • Ultra Cold Chain (UCC), vaksin ucc perlu menghindari paparan sinar matahari secara langsung sehingga disimpan dalam suhu -70 ke atas ºC. Vaksin pfizer merupakan salah satu jenis vaksin ini.

Berdasarkan ketiga jenis vaksin di atas maka diperlukannya tempat penyimpanan vaksin yang tepat. Berikut tempat penyimpanan vaksin berdasarkan sistem cold chain.

  1. Refrigerator
Refrigerator Thermo
Thermo Scientific Refrigerator

Refrigerator umumnya bertemperatur 2 ºC – 8 ºC. Hal ini, sangat tepat digunakan untuk menyimpan vaksin yang memiliki sensitivitas terhadap beku. Di samping itu, refrigerator dapat mempertahakan suhunya saat pemadaman listrik beberapa jam.

Lab refrigerator milik Thermo Scientific dapat digunakan untuk  menyimpan vaksin. Temperatur refrigerator ini berkisar dari 1 ºC- 12 ºC sehingga sangat tepat digunakan untuk menyimpan vaksin yang memerlukan suhu berkisar 2ºC – 8 ºC.

Di samping itu, refrigerator ini memiliki pengontrol suhu digital, terdapat dua kipas pada pintu sehingga sirkulasi udara sangat baik serta adanya alarm audio dan visual suhu.

  1. Freezer
Freezer Vaksin
Binder Freezer UFV Series

Freezer digunakan untuk menyimpan vaksin yang membutuhkan temperatur di bawah 0 ºC dan sensitif terhadap paparan cahaya. Sayangnya, tiap freezer memiliki rentang suhu yang berbeda. Oleh karena itu, freezer yang digunakan perlu disesuaikan dengan rentang suhu penyimpanan vaksin.

Berikut beberapa freezer yang dapat digunakan.

  • Lab Freezer milik Thermofisher scientific merupakan freezer yang dapat diandalkan untuk menyimpan vaksin dengan suhu rentang -20 ºC – 40 ºC. Sebab, freezer ini memiliki pengontrol suhu digital dan dapat mendefrost secara manual.
  • Freezer series UFV milik Binder, perusahaan bioteknologi asal Amerika. Freezer ini memiliki pengontrol suhu dari -40 ºC hingga -90 ºC, rendah dalam pemakaian energi, paking pintu yang inovatif sehingga mengurangi penumpukan es, dilengkapi gagang pintu ergonomis, tahan karat sebab interior dan pintu dalam terbuat dari baja tahan karat.
  1. Cold box, kotak pendingin berinsulasi yang dilapisi dengan kantong es. Hal ini digunakan saat pendistribusian jangka pendek. Selanjutnya, cool box harus ditutup rapat setelah vaksin dimasukkan agar suhu dalam cold box tetap terjaga di bawah 10 ºC dan baru dapat dibuka saat vaksin akan digunakan.
  2. Vaccine carrier, digunakan pada pendistribusian lebih pendek lagi sebab vaksin yang dapat dimuat lebih sedikit dibandingkan cold box karena itu lebih mudah dibawa. Vaksin yang telah digunakan perlu diletakkan pada spons penutup vaccine carrier namun jika vaksin belum digunakan tetap disimpan dalam vaccine carrier.
  3. Water pack, wadah plastik berbentuk datar dan dapat diisi air. Penggunaan waterpack kerap digunakan untuk melapisi bagian dalam cold box dan vaccine carrier.

Reference

The Vaccine Cold Chain

 

Our Location

HEAD QUARTERS - JAKARTA

  • Kebon Jeruk Business Park Blok F2-9, Jl. Raya Meruya Ilir No.88, Meruya Utara, Jakarta Barat - 11620

CIKARANG OFFICE

  • CBD Jababeka Blok A-8 Jl. Niaga Raya Kav. AA3, Jababeka II Pasar Sari

SURABAYA OFFICE

  • Gedung Bumi Mandiri Tower I, Lantai 4/410 Jl. Basuki Rahmat 129-137, Surabaya 60271

MEDAN OFFICE

  • Regus Forum Nine, 9th Floor Jl. Imam Bonjol No 9, Medan 20112

Get In Touch with Us

  • This field is for validation purposes and should be left unchanged.