Artikel
Februari 26, 2021 - Posted by

Jumlah kasus kejahatan seksual kian meninggi tiap tahunnya. Pada tahun 2020, Komisi Nasional Perempuan mencatat 459 wanita dewasa dan 2.683 anak-anak menjadi korban kejahatan seksual. Bahkan, WHO (World Health Organization) menyatakan 1 dari 3 perempuan dan 3 dari 10 anak-anak merupakan korban kejahatan seksual. Akan tetapi, angka tersebut hanyalah angka gunung es, yang mana jumlah korban sesungguhnya melebihi data yang tercatat. Hal ini disebabkan, oleh keadaan korban yang enggan melaporkan akibat takut, malu, mengalami trauma psikis, dan lainnya. Meskipun demikian, pelaporan dan identifikasi kejahatan seksual perlu dilakukan.

Kejahatan Seksual?

Kejahatan seksual didefinisikan sebagai bentuk tindakan atau upaya yang dilakukan untuk memperoleh seks dengan cara memaksa dan dapat dilakukan oleh siapapun tanpa memerdulikan hubungannya dengan korban (WHO, 2002). Selain itu, kejahatan seksual tidak hanya berkaitan dengan seks namun segala aspek tindakan kekerasan seksual untuk menyerang diri korban termasuk dalam kejahatan seksual. Jenis tindak kriminal kejahatan seksual, yaitu perkosaan, pencabulan serta pelecehan seksual. Umumnya, pelaku merupakan kerabat terdekat korban dan orang tidak dikenal.

Penyebab utama kejahatan seksual sendiri, dapat berasal dari pelbagai faktor sosial. Tak hanya itu, terdapat faktor lain yang menyebabkan kasus tersebut meningkat, di antaranya kuatnya budaya patriarki, ketimpangan relasi kuasa, penegakan hukum yang lemah, dan pemakluman masyarakat.

Berdasarkan hal tersebut, kejahatan seksual memiliki dampak buruk dan dapat mempengaruhi kesehatan fisik serta psikis dalam kurun waktu lama. Akibatnya, korban sulit ataupun takut untuk melaporkan sehingga proses identifikasi kejahatan seksual menjadi terhambat dan fenomena gunung es akan tetap berlanjut.

Bagaimana Cara Identifikasi?

Meskipun tidak mudah, pengidentifikasian merupakan hal utama untuk dilakukan ketika kejahatan seksual terjadi. Hal ini dikarenakan, hasil identifikasi digunakan sebagai alat bukti yang sah bernama visum et repertum. Fungsi visum et repertum ialah menguraikan segala hal mengenai hasil pemeriksaan medis yang tertuang di dalam bagian pemberitaan untuk digumakan sebagai pengganti barang bukti. Singkatnya, melalui hasil identifikasi dapat diketahui dengan jelas tiap hal yang telah terjadi pada korban.

Berikut tata laksana visum et repertum untuk korban kejahatan seksual.

  1. Anamnesis (Pencatatan identitas korban dan mengenai kejadian)
  2. Pemeriksaan fisik status generalis (keadaan umum, kesadaran, tanda-tanda vital, penampilan, keadaan emosional), pakaian, kooperatif ataupun tidak.
  3. Pemeriksaan status ginekologis (posisi litotomi, periksa luka-luka sekitar vulva, perineum, paha,  alat kemaluan, selaput dara, pengambilan sampel harus kurang dari 72 jam dari kejadian, swab dubur (jika adanya persetubuhan dubur)).

Korban kekerasan seksual seringkali tidak mendapatkan penutupan yang diperlukan karena kurangnya hasil yang informatif dan konklusif dari bukti DNA. Masalah yang terkait dengan campuran DNA, DNA yang terdegradasi dan tingkatnya rendah, penghambat PCR, dan bahkan sumber daya laboratorium yang tersedia untuk memproses sampel secara tepat waktu. Seluruh hal tersebut dapat menghambat keberhasilan penyelesaian kerja kasus yang diperlukan.

 

Di samping itu, terdapat proses identifikasi menggunakan peralatan khusus guna menemukan DNA pelaku melalui sampel (air mani, cairan vagina, darah, air liur, keringat, urine, jaringan kulit). Hal ini dikarenakan, kurangnya hasil yang informatif, konklusif dari bukti DNA akibat rendahnya DNA yang terdegradasi. Oleh karena itu, untuk mendapatkan hasil terbaik dalam kuantifikasi downstream dan DNA profiling. Di bawah ini merupakan penjelasan mengenai proses identifikasi  yang ditetapkan oleh Qiagen:

  • Differential wash & lysis, tahap ini merupakan langkan pencucian sampel serta sperm pellet lysisLangkah ini bertujuan untuk mencuci sampel dan memisahkan cairan mani dalam waktu singkat serta dengan prosedur yang terstandarisasi. Tahapan ini menggunakan QIAcube Connect untuk mengotomatiskan ekstraksi diferensial.
  • DNA Purrification, langkah ini dilakukan untuk memfilter hasil tahap sebelumnya. Penggunaan EZ1 Advanced XL dan EZ1 DNA Investigator Kit dalam tahapan ini agar dapat dilakukannya filterisasi 14 sampel sekaligus dalam waktu 20 menit dengan teknologi magnetic bead. selain itu, protokol alat ini mudah dijalankan sehingga menghasilkan hasil yang akurat dan mudah dalam untuk dicek kembali, yakni dengan scan barcode.
  • Assay Setup, tahap ini dilakukan untuk mendapatkan hasil ekstrasi materi genetik sehingga didapatkan DNA pelaku. Sama halnya dengan tahap assay setup pada proses identifikasi korban bencana, perangkat yang digunakan dalam tahap ini ialah QIAgility. Perangkat ini memerlukan waktu 30 menit untuk kapasitas maksimal 96 sampel.
  • Quantification, langkah ini dilakukan untuk mengkuantifikasi total DNA manusia dan DNA pria ataupun pelaku sebelum dilakukannya STR analisis. Tahapan ini bertujuan pula untuk memastikan terdapat cukup DNA untuk langkah pengujian selanjutnya sehingga terlihat sampel tersebut mengandung inhibitor. Rotor Gene Q dan Investigator Quantiplex Pro RGQ Kit digunakan dalam tahapan ini untuk menganalisis sampel dan melakukan kuantifikasi dengan tepat dalam waktu satu jam.
  • STR (Short Tandem Repeats) Analysis, tahapan terakhir ini dilakukan untuk menetapkan identitas pelaku melalui hasil dari  langkah sebelumnya dalam waktu 60 menit. Kualitas hasil dari tahap ini terintegrasi, yang mana membantu dalam pembuatan interpretasi data. Perangkat yang digunakan, yaitu Investigator STR QS Kits yang mana memiliki ketetapan CODIS (Combine DNA Index System), CODIS expansion, ESS (European Standard Set) dan format gonosomal yang tersedia.

Identifikasi korban kejahatan seksual perlu dilakukan baik dalam pembuatan visum et repertum hingga tindak lanjut medis lainnya seperti penatalaksanaan psikiatrik dan obstetri-ginekologi agar korban mendapatkan keadilan serta proses pemulihan dengan baik.

 

Proses forensik suatu kasus membutuhkan peralatan yang tepat dalam waktu yang cepat.

Anda berminat untuk memiliki peralatan yang tepat? sila menghubungi GeneCraftLabs melalui email kami sales@genecraftlabs.com

Team kami akan membantu Anda menemukan perlengkapan forensik yang tepat. Sebagai distributor laboratorium di Indonesia, kami dapat membantu memenuhi perlengkapan laboratorium Anda secara tepat dan cepat.

 

 

Our Location

HEAD QUARTERS - JAKARTA

  • Kebon Jeruk Business Park Blok F2-9, Jl. Raya Meruya Ilir No.88, Meruya Utara, Jakarta Barat - 11620

CIKARANG OFFICE

  • CBD Jababeka Blok A-8 Jl. Niaga Raya Kav. AA3, Jababeka II Pasar Sari

SURABAYA OFFICE

  • Gedung Bumi Mandiri Tower I, Lantai 4/410 Jl. Basuki Rahmat 129-137, Surabaya 60271

MEDAN OFFICE

  • Regus Forum Nine, 9th Floor Jl. Imam Bonjol No 9, Medan 20112

Get In Touch with Us

  • This field is for validation purposes and should be left unchanged.