Artikel
Januari 13, 2021 - Posted by

Analisis spesiasi menjadi penting untuk industri makanan, lingkungan, dan farmasi, di mana hanya mengukur jumlah total suatu elemen tidak cukup untuk mengukur tingkat toksisitasnya. Mengidentifikasi berbagai spesies dan konsentrasinya memberikan pemahaman yang lebih baik dan terinformasi tentang dampak unsur tersebut baik dari segi lingkungan atau kesehatan. Pendekatan klinis atau lingkungan akan berbeda-beda tergantung pada konsentrasi spesies beracun. Misalnya, paparan arsenik anorganik  bersifat beracun (arsenit dan arsenat) dan menimbulkan masalah yang jauh lebih besar daripada paparan spesies arsenik organik dengan tingkat toksisitas yang lebih kecil. Sebaliknya, spesies merkuri organik lebih beracun daripada spesies merkuri anorganik, sehingga paparan methylmercury atau ethylmercury menimbulkan risiko kesehatan yang lebih parah.

 

Kromium ditemukan secara alami di bebatuan, tanah, tumbuhan dan hewan, tetapi juga dapat masuk ke lingkungan sebagai hasil dari aktivitas manusia. Seperti banyak unsur lainnya, kromium ditemukan dalam beberapa bilangan oksidasi, sehingga dapat sangat bervariasi dalam segi toksisitas, nilai gizi, bioaktivitas, dan mobilitas lingkungan. Dalam jumlah kecil, kromium trivalen (Cr (III)) menjadi nutrisi penting yang meningkatkan metabolisme insulin, gula, dan lipid. Sebaliknya, kromium heksavalen (Cr (VI)) beracun dan dapat menyebabkan iritasi saluran pernapasan, lambung, dan usus, anemia, dan dikenal sebagai karsinogen bagi manusia. Cr (VI) dapat larut ke dalam sumber air minum secara alami, tetapi air minum juga dapat terkontaminasi oleh proses industri seperti pengolahan kayu dengan tembaga dikromat, penyamakan kulit dengan kromik sulfat, dan peralatan masak stainless steel. Karena variasi toksisitas yang disebabkan oleh bilangan oksidasi kromium yang berbeda, mengetahui konsentrasi total kromium dalam larutan tidak cukup untuk menentukan toksisitas sebenarnya setelah terjadi pemaparan, dan oleh karena itu analisis spesiasi diperlukan. Inductively Coupled Plasma Mass Spectrometry (ICP-MS) dapat menentukan jumlah total elemen yang ada dengan mudah, pemisahan kromatografi sebelum sistem ICP-MS diperlukan untuk memisahkan spesies elemen yang berbeda. Karena Cr (III) dan Cr (VI) memiliki muatan yang berbeda, Ion Chromatography (IC)  menggunakan pertukaran anion adalah metode pemisahan yang ideal untuk analisis spesies ini.

 

Salah satu tantangan spesiasi kromium adalah bahwa Cr (VI) dapat didegradasi menjadi Cr (III) dan Cr (III) dapat diubah menjadi endapan (Cr(OH)3), sehingga analisisnya sangat tergantung pada pH larutan. Kesulitan lain dalam analisis spesiasi secara akurat Cr oleh ICP-MS adalah banyaknya gangguan spektral (misalnya 35Cl16O1H+ atau 40Ar12C+) pada isotop kromium yang paling melimpah, 52Cr3.

 

Dalam application note ini, Sistem Kromatografi Ion Thermo Scientific Dionex Aquion digabungkan dengan Thermo Scientific iCAP RQ ICP-MS untuk menentukan konsentrasi Cr (III) dan Cr (VI) dalam air minum.

Our Location

HEAD QUARTERS - JAKARTA

  • Kebon Jeruk Business Park Blok F2-9, Jl. Raya Meruya Ilir No.88, Meruya Utara, Jakarta Barat - 11620

CIKARANG OFFICE

  • CBD Jababeka Blok A-8 Jl. Niaga Raya Kav. AA3, Jababeka II Pasar Sari

SURABAYA OFFICE

  • Gedung Bumi Mandiri Tower I, Lantai 4/410 Jl. Basuki Rahmat 129-137, Surabaya 60271

MEDAN OFFICE

  • Regus Forum Nine, 9th Floor Jl. Imam Bonjol No 9, Medan 20112

Get In Touch with Us

  • This field is for validation purposes and should be left unchanged.