Artikel
Januari 6, 2022 - Posted by

Etilene Oksida atau disingkat ETO kerap digunakan sebagai bahan tambahan dalam pestisida dan pengawet rempah-rempah. Walaupun begitu, penggunaan etilen oksida di bahan makanan telah dilarang oleh banyak negara karena sifatnya yang berbahaya untuk tubuh manusia.

Namun, di India dan Kanada pemakaian etilene oksida masih saja dilakukan untuk membunuh bakteri dan jamur pada makanan. Sebenarnya seberapa bahayanya zat tersebut bagi manusia? Lalu, bagaimana cara mendeteksinya dalam bahan makanan?

Bahaya ETO

Etilene oksida berbentuk gas, tidak berbau maupun berwarna sehingga, sulit untuk dideteksi. Kandungan etilene oksida kerap kali ditemukan pada rempah-rempah, jamu, buah yang dikeringkan, es krim, kacang-kacangan, dan selai.

Tahun lalu, etilene oksida kembali menjadi perbincangan setelah ditemukan dalam penguat rasa locust bean gum (E410) di Uni Eropa. Selaras dengan itu, ETO di Indonesia sering digunakan untuk sterilisasi rempah-rempah.

Hal itu dilakukan karena, kontaminasi kotoran hewan, bulu hewan pengerat, dan bagian serangga, kerap kali ditemukan pada rempah-rempah. Selama proses penyimpanan, distribusi, dan penjualan kontaminasi tersebut dapat terus terjadi. Bahkan, penggunaan ETO juga dilakukan untuk mengawetkan buah kering, seperti buah plum kering.

Padahal, Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (U.S. EPA) mengklasifikasikan etilena oksida dalam grup B1 (senyawa bersifat karsinogenik) karena ditemukannya efek samping dari paparan ETO pada manusia, berupa efek otot lemas, mual, muntah, diare, sesak napas, sakit kepala, dan disfungsi neurologis. Efek beratnya dapat menyebabkan leukimia, aborsi spontan, neurotoksisitas, serta sindrom saluran napas akut.

Analisis Etilene Oksida

Pendeteksian etilene oksida semakin diperlukan sebab adanya regulasi terhadap senyawa tersebut. Instrumen GC-MS dan GC-MS/MS dapat digunakan untuk mendeteksi ETO dengan tepat.

Metode GC-MS sendiri, terdiri dua periode yang dapat dipilih, yaitu November 1999 dan metode GC-MS/MS pada bulan Desember 2020. Berikut perbedaan atas kedua metode tersebut.

  • Metode GC-MS November 1999, prosedur analisa metode ini menentukan ETO sebagai jumlah etilene oksida dan 2-Kloroetanol. Penentuan tersebut, didasarkan pada transisi 2-Kloroetanol ke Etilene Oksida diikuti oleh derivatisasi dengan iodide dan deteksi Iodidiethanol yang terbentuk di GC. Sayangnya, proses penelitian ini hanya dapat dilakukan sebanyak enam sampel per hari. Proses preparasi hanya dapat dilakukan oleh orang berpengalaman.
  • Metode GC-MS/MS Desember 2020, deteksi limit etilene oksida yang ditetapkan dalam metode ini, adalah 0.05 mg/kg. Salah satu laboratorium pengawasan pangan di Stuttgart, The Chemiches und Veterinäruntersuchungsamt (CVUA), menerbitkan jurnal mengenai analisis kandungan etilen oksida dalam biji wijen dari India menggunakan GC-MS dan GC-MS/MS.

Preparasi Sampel

Berdasarkan jurnal dari CVUA untuk analisis ETO dan metabolit 2-Kloroetanol, diperlukan 2g sampel dengan tambahan cairan standar dan Asetoniril. Sampel divortex selama lima menit. Kit ekstraksi EN 15662 mengandung 4g MgSO4, 1 g NaCl, 1 g Trisodium Sitrat, dan 500 mg Disodium Sitrat.

Setelah dikocok kurang lebih satu menit, sampel disentrifugasi dengan kecepatan 5000 rpm selama lima menit. 1 ml supernatan dipindahkan ke dalam tabung mikrosentrifus yang berisi 150 mg MgSO4, 25 mg PSA, dan 25 mg C18.  Sampel kembali divortex selama 30 detik kemudian, disentrifugasi pada 5000 rpm, dan supernatant dipindahkan ke vial GC.

 

Hasil Analisis GC-MS

Di bawah ini terdapat grafik hasil analisis ETO pada sampel biji wijen dengan mengikuti metode Jerman 35 LMBG.

analisis etilene oksida

 

analisis ETO
Gambar 1: Sampel biji wijen mengandung 0.406 mg/kg etilene oksida.

 

grafik kalibrasi etilen oksida
Gambar 2: Kurva kalibrasi Iodidiethanol. Metode LOQ ditentukan dengan 0.02 mg/kg.

 

Hasil analisis GC-MS/MS

Hasil dari uji sampel biji wijen berduri berdasarkan metode CVUA Stuttgart dapat dilihat sebagai berikut.

hasil gc-ms etilen oksida
Gambar 3: Total Ion Chromatogram (TIC) 0.025 mg/kg Etilene Oksida dan 2-Kloroetanol.

 

kurva kalibrasi etilen oksida
Gambar 4: Kurva kalibrasi Etilene Oksida dan 2-Kloroethanol kisaran 0.005 – 0.2 mg/kg.

 

sensitivas etilen oksida mixed
Gambar 5: Sensitivitas Etilene Oksida dan 2-Kloroethanol pada 0.025 mg/kg.

 

Penjelasan lebih dalam mengenai analisis etilene oksida dengan GC-MS dan GC-MS/MS sila baca di sini application note

 

References

karantina.pertanian.go.id

ec.europa.eu

Puspitasari, D. 2018. Kajian Senyawa Ikutan (Carry Over Compounds) Dalam Bahan Tambahan Pangan.

Tahir, Muliyati et.all. 2019. Identifikasi Pengawet dan Pewarna Berbahaya Pada Bumbu Giling yang Diperjualbelikan di Pasar Daya Makassar. Jurnal Media Laboran.

 

Our Location

HEAD QUARTERS - JAKARTA

  • Kebon Jeruk Business Park Blok F2-9, Jl. Raya Meruya Ilir No.88, Meruya Utara, Jakarta Barat - 11620

CIKARANG OFFICE

  • CBD Jababeka Blok A-8 Jl. Niaga Raya Kav. AA3, Jababeka II Pasar Sari

SURABAYA OFFICE

  • Gedung Bumi Mandiri Tower I, Lantai 4/410 Jl. Basuki Rahmat 129-137, Surabaya 60271

MEDAN OFFICE

  • Regus Forum Nine, 9th Floor Jl. Imam Bonjol No 9, Medan 20112

Get In Touch with Us

  • This field is for validation purposes and should be left unchanged.